Optimalisasi IoT: Menyeimbangkan Edge dan Cloud untuk Kinerja Maksimal

Optimalisasi IoT: Menyeimbangkan Edge dan Cloud untuk Kinerja Maksimal Perusahaan IOT Indonesia

Internet of Thing (IoT) merupakan serangkaian software dan hardware yang terhubung ke internet dan diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia. Gabungan sensor dan aktuator menjalankan fungsinya masing-masing sesuai arahan mikrokontroler. Data-data yang dihasilkan dari sensor dan aktuator IoT tentunya tersimpan dan terkontrol di dalam server. Pada penggunaan IoT, server memiliki tanggung jawab pengelola dan penyimpan data, mendistribusikan sumber daya, dan memberikan fasilitas komunikasi antar perangkat. Pada kali ini, akan dibahas 2 jenis server yaitu edge server dan cloud server. 

Komputasi edge dan cloud bekerja sama untuk menambah nilai yang luar biasa pada berbagai industri vertikal. Dengan bekerja sama, edge server dan cloud dapat secara instan membantu menyelesaikan tugas-tugas yang membutuhkan sumber daya intensif seperti operasi kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (ML) berskala besar. Dengan 5G dan kemajuan teknologi lainnya yang semakin populer di tahun 2022, edge server dan cloud diharapkan dapat membuka banyak peluang baru di berbagai industri. Komputasi edge mengurangi waktu respons dengan mendekatkan komputer ke sumber data. Di sisi lain, komputasi awan membebankan biaya tetap untuk memasok teknologi canggih melalui internet.
 

Edge Server / Edge Computing

Edge server adalah server yang beroperasi di tepi jaringan untuk menyediakan pemrosesan, penyimpanan, jaringan, keamanan, dan sumber daya komputasi lainnya. Tidak seperti server cloud, yang beroperasi di pusat data di mana pun di dunia, server edge beroperasi di lebih banyak lokasi atau “point of presence” (PoP) tempat data diproduksi dan dikonsumsi oleh pengguna dan perangkat. Hal ini mungkin termasuk komputer lokal, ponsel, perangkat Internet of Things (IoT), mesin ritel point-of-sale, dan ribuan perangkat lain di berbagai lokasi. Edge server memindahkan pemrosesan dan penyimpanan komputer lebih dekat ke lokasi-lokasi ini untuk meminimalkan latensi, mengurangi kemacetan, menurunkan biaya, dan meningkatkan pengalaman pengguna.
 

Tipe-tipe Edge Server

Edge server menawarkan beberapa tipe, tergantung pada masing-masing penggunaannya. Berikut merupakan tipe-tipe edge server yang bisa digunakan:

  1. CDN Edge Server: Merupakan server yang berada di ujung logis atau “tepi” dari sebuah jaringan. Edge server sering kali berfungsi sebagai penghubung antara jaringan yang terpisah. Tujuan utama dari CDN edge server adalah untuk menyimpan konten sedekat mungkin dengan mesin klien yang meminta, sehingga mengurangi latensi dan meningkatkan waktu muat halaman. CDN Edge Server beroperasi pada arsitektur terdistribusi, menyebarkan konten di beberapa server yang terletak di berbagai lokasi. Daripada hanya mengandalkan server pusat, pendekatan terdesentralisasi ini mengarahkan permintaan pengguna ke Edge Server terdekat, memastikan pengiriman konten yang cepat dan ketahanan terhadap kegagalan server. 

  2. Network Edge Server: Di tepi jaringan, sebagian besar edge node akan berada di lingkungan seperti pusat data, terutama dalam beberapa tahun ke depan karena perusahaan telekomunikasi akan memanfaatkan pusat data yang ada di jaringan mereka. Namun, ketika edge server meluas ke bagian jaringan yang lebih dalam, seperti penerapan di stasiun pangkalan, lingkungannya akan berbeda dengan pusat data tradisional. Sebagai contoh, dalam penerapan skala yang lebih kecil, pendinginan akan diberikan secara berbeda dibandingkan dengan pusat data hyperscale dengan ribuan server. 

  3. On Premise Edge Server: Komputasi on-premise atau “on-prem” secara umum mengacu pada komputasi yang dilakukan pada sumber daya (server / perangkat keras) yang terletak di fasilitas dan pusat data organisasi sendiri alias di lokasi organisasi. Komputasi on-premise cenderung menjadi yang paling dekat dengan orang-orang di dalam organisasi dan berada di bawah kendali organisasi.
     

Kelebihan Penggunaan Edge Server

  1. Waktu Respons dan Latensi yang Lebih Baik: Pemrosesan data akan berlangsung lebih cepat diproses lebih dekat dengan sumbernya. Selain itu, perangkat juga akan mendapatkan latensi yang lebih rendah.

  2. Menurunkan resiko dan meningkatkan keamanan: Penyimpanan data di server lokal dapat mengurangi penggunaan cloud server yang rentan terhadap serangan siber apalagi dalam jumlah besar, sehingga server lokal dapat membantu mengamankan data.

  3. Pengurangan Bandwidth Mengurangi Biaya Transmisi: Dengan berkurangnya data di cloud dan lebih banyak data yang diproses secara lokal, pusat data dapat menghemat kapasitas bandwidth mereka dan menghindari peningkatan yang mahal pada fitur cloud server.

  4. Skala Ekonomi Melalui Perangkat Edge: Edge server dapat melakukan pemrosesan data lebih cepat bahkan saat jaringan sedang down dan mengurangi beban di pusat data cloud.
     

Kekurangan Penggunaan Edge Server

  1. Kesenjangan Geografis: Di area dengan jumlah orang dan sumber daya keuangan atau teknis yang lebih sedikit, kemungkinan akan ada lebih sedikit perangkat edge yang aktif dan server lokal di jaringan. Banyak dari area yang sama juga akan memiliki lebih sedikit profesional TI terampil yang dapat meluncurkan dan mengelola perangkat jaringan edge lokal. 

  2. Kesulitan dalam Pemantauan: Meskipun komputasi edge memberikan manfaat keamanan dengan meminimalkan jumlah data yang harus dilindungi di pusat data, komputasi edge juga menghadirkan kekhawatiran akan keamanan di setiap titik lokal jaringan edge. Tidak semua perangkat edge memiliki kemampuan otentikasi dan keamanan bawaan yang sama, yang membuat beberapa data lebih rentan terhadap pembobolan. 

  3. Hilangnya Data dengan Energi Potensial: Meskipun prosedur komputasi edge menghemat ruang dan sumber daya keuangan dalam hal penyimpanan, data penting dapat secara tidak sengaja disalahartikan dan hilang oleh perangkat edge.

  4. Biaya dan Kebutuhan Kapasitas Penyimpanan: Menggunakan pada jaringan edge yang lebih kuat tentu saja menghemat uang di tingkat bandwidth pusat data cloud, tetapi membutuhkan biaya yang besar untuk meluncurkan dan memelihara perangkat edge.
     

Cloud Server / Cloud Computing

Cloud server mengacu pada pengiriman layanan komputasi melalui Internet, bukan melalui perangkat keras fisik atau infrastruktur fisik. Layanan komputasi ini mencakup server, penyimpanan, database, jaringan, perangkat lunak, analisis, dan intelijen. Dengan cloud server, pihak ketiga bertanggung jawab untuk menyimpan data pengguna dan memastikan data tersebut selalu aman dan dapat diakses. Penyedia layanan cloud akan memigrasikan pengguna ke cloud, memelihara perangkat keras dan perangkat lunak yang dibutuhkan oleh bisnis. Server cloud memiliki hosting khusus dan menciptakan peluang bagi perusahaan yang bekerja dari rumah atau dari mana saja untuk berkembang, sehingga bisnis tetap fleksibel dan mudah beradaptasi.
 

Tipe-tipe Cloud Server

Sama seperti edge server, cloud server juga menawarkan beberapa tipe cloud untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Berikut merupakan tipe-tipe cloud server yang dapat menyesuaikan kebutuhan:

  1. Public Cloud: Merupakan jenis komputasi awan di mana penyedia layanan awan pihak ketiga menawarkan layanan komputasi, seperti daya komputasi, penyimpanan, basis data, pembelajaran mesin, AI, jaringan, keamanan, dan analisis. Layanan ini tersedia bagi siapa saja yang ingin membeli atau menggunakannya, baik secara bebas maupun sesuai permintaan, sebagai layanan berbasis langganan atau layanan bayar sesuai penggunaan. Biayanya tergantung pada penyimpanan, bandwidth, atau siklus CPU yang dikonsumsi.

  2. Private Cloud: Lingkungan komputasi awan yang melayani satu pelanggan. Jika layanan cloud publik tersedia melalui koneksi internet ke organisasi mana pun, cloud privat hanya dapat diakses oleh pengguna di dalam organisasi yang memilikinya. Menggabungkan manfaat cloud publik dengan keamanan dan kontrol infrastruktur di lokasi, cloud pribadi dapat di-host di dalam pusat data organisasi sendiri, di fasilitas pihak ketiga, atau melalui penyedia cloud pribadi.

  3. Hybrid Cloud: Mengacu pada infrastruktur penyimpanan dan komputasi yang terdiri dari campuran layanan cloud pribadi, cloud publik, dan/atau infrastruktur lokal. Dengan cloud hybrid, sebuah organisasi memiliki kesempatan untuk mendapatkan “yang terbaik dari kedua dunia”. Mereka dapat menggunakan layanan cloud yang paling sesuai dengan kebutuhan sambil tetap menjaga operasi tertentu di dalam infrastruktur jaringan lokal mereka atau di dalam cloud pribadi.
     

Kelebihan Penggunaan Cloud Server

  1. Kemudahan Implementasi: Cloud computing memungkinkan bisnis untuk mempertahankan aplikasi dan proses bisnis yang sama tanpa harus berurusan dengan teknis backend. Mudah dikelola melalui Internet, infrastruktur cloud dapat diakses oleh perusahaan dengan mudah dan cepat.

  2. Aksesibilitas: Infrastruktur cloud Internet memaksimalkan produktivitas dan efisiensi perusahaan dengan memastikan aplikasi selalu dapat diakses. Hal ini memungkinkan kolaborasi dan berbagi yang mudah di antara pengguna di berbagai lokasi.

  3. Tanpa Perangkat Keras: Karena semuanya akan di hosting di cloud, pusat penyimpanan fisik tidak lagi diperlukan. Namun, cadangan mungkin perlu dipertimbangkan jika terjadi bencana yang dapat membuat produktivitas perusahaan terhenti.

  4. Efisiensi Pemulihan: Komputasi awan memberikan pengambilan aplikasi dan data yang lebih cepat dan akurat. Dengan waktu henti yang lebih sedikit, ini adalah rencana pemulihan yang paling efisien.
     

Kekurangan Penggunaan Cloud Server

  1. Tidak Memegang Kendali: Saat memindahkan layanan ke cloud, pengguna menyerahkan data dan informasi ke penyedia cloud. Sebelum menyerahkan data ke penyedia cloud, pengguna harus benar-benar yakin bahwa perusahaan ini mampu menjaga keamanan data.

  2. Fitur Limit: Beberapa penyedia layanan cloud cenderung menawarkan versi terbatas dan hanya mengaktifkan fitur-fitur yang paling populer saja. Sebelum mendaftar, pastikan untuk mengetahui apa saja yang ditawarkan oleh penyedia layanan cloud.

  3. Memerlukan Internet: Jika koneksi Internet gagal, begitu pula akses ke data yang disimpan dari jarak jauh. Kegagalan internet dapat menyebabkan waktu henti yang mahal ketika bisnis sangat bergantung pada cloud server.

  4. Kontrak Mengikat: Beberapa penyedia layanan cloud mungkin mencoba mengikat dengan kontrak jangka panjang. Hal ini mungkin tidak menguntungkan jika kebutuhan penyimpanan data pengguna berkurang, yang berarti harus tetap membayar untuk penyimpanan yang tidak digunakan.
     

Kesimpulan

Edge server dan cloud server mewakili dua pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi dalam pemrosesan dan manajemen data. Edge server menawarkan pemrosesan dengan latensi rendah dan responsif waktu nyata di ujung jaringan, sedangkan cloud server memberikan skalabilitas, fleksibilitas, dan manajemen sumber daya komputasi yang terpusat. Dengan memahami perbedaan utama antara kedua paradigma ini dan kekuatan masing-masing, bisnis dapat membuat keputusan yang tepat untuk merancang infrastruktur TI yang tangguh dan efisien yang memenuhi tuntutan dunia yang berpusat pada data saat ini. Cloud server sangat cocok untuk aplikasi yang membutuhkan pemrosesan data berskala besar, sedangkan edge server ideal untuk aplikasi yang membutuhkan latensi rendah dan pemrosesan waktu nyata. Perlu juga dicatat bahwa edge server dan cloud server tidak saling eksklusif, dan pendekatan hybrid yang menggabungkan keduanya dapat menjadi solusi terbaik untuk aplikasi tertentu. Sangat penting untuk mempertimbangkan kebutuhan unik aplikasi dan memilih model penerapan yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Artikel Terbaru