Berhenti Memakai AngularJS! Gunakan Angular!

Berhenti Memakai AngularJS! Gunakan Angular! Perusahaan IOT Indonesia

Jika anda ingin mengembangkan front-end suatu platform, seperti sebuah aplikasi atau web, tentunya anda membutuhkan sebuah framework agar platform tersebut bisa berjalan dengan cepat dan berfungsi dengan semestinya, pengembangan platform menjadi lebih efisien. Ada beberapa front-end framework yang dapat digunakan untuk mengembangkan platform, seperti React, Vue, JQuery, Svelte, Preact, Alpine, dan yang akan kita bahas dalam artikel ini, yaitu Angular. Namun sebelum kita masuk ke dalam pembahasan Angular, jika anda baru mendengar istilah front-end framework untuk pertama kalinya, kami akan membantu anda untuk memahaminya.
 

Apa itu Front-end Framework?

Front-end framework sendiri terdiri dari 2 kata, front-end dan framework. Front-end merujuk pada GUI (Graphical User Interface), yang artinya adalah tampilan layar dari platform itu sendiri, yang mana anda akan bisa berinteraksi dengan click atau sentuhan. Front-end sendiri membutuhkan suatu fondasi agar web bisa berfungsi dan berjalan cepat. Disinilah framework memulai perannya. Framework adalah sebuah struktur yang dapat digunakan untuk membangun sebuah aplikasi web. Dalam sistem komputer, nantinya framework akan menunjukkan jenis program apa yang dapat atau harus dibangun dan bagaimana program-program tersebut akan saling terkait, agar platform bisa berjalan dengan semestinya.

Jadi, Front-end Framework adalah kumpulan program yang digunakan oleh pengembang platform untuk membangun tampilan platform tersebut. Front-end Framework menyediakan struktur dasar di mana elemen visual halaman platform yang langsung berinteraksi dan dilihat oleh pengguna, seperti tata letak, tombol, dan hal lainnya, dapat dibangun secara efisien. Framework ini biasanya dilengkapi dengan seperangkat aturan dan komponen yang dapat digunakan kembali yang mempermudah keseluruhan proses pengembangan dengan membuatnya lebih cepat dan lebih dapat diandalkan. Dengan ini, pengembang dapat fokus pada penyesuaian desain dan fungsionalitas platform tanpa harus membangun setiap elemen dari awal.

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, ada beberapa front-end framework yang dapat digunakan untuk mengembagkan sebuah platform. Dalam artikel ini, kita kan membahas Framework yang sudah berdiri sejak lama dan juga salah satu yang terbesar, yaitu Angular, dan juga pendahulunya yaitu AngularJS. Perlu diingat, Angular dan AngularJS adalah dua teknologi framework yang berbeda.
 

Kemunculan Front-end Framework

Dua puluh lima tahun yang lalu, sebelum adanya framework, saat itu pengembangan web hanya dapat menggunakan HTML (Hyper Text Markup Language), CSS (Cascading Style Sheets) , dan JavaScript saja. Ketiga hal tersebut adalah bahasa pemrograman, yang mana HTML menentukan struktur konten, CSS menentukan gaya dan tata letak, dan JavaScript membuat konten menjadi interaktif. Proses ini memakan waktu yang sangat lama, dan tentunya melakukan pengembangan web dengan cara ini juga tidaklah mudah. Pada waktu itu juga, penggunaan CSS saat membuat web agar bisa mendukung banyak browser adalah sebuah mimpi buruk bagi para pengembang. Anggap saja suatu platform terlihat baik - baik saja di satu browser. Namun saat menggunakan browser lain, web tersebut akan menjadi sangat berantakan. Begitu juga yang terjadi dengan JavaScript. 

Pada awal tahun 2000-an, pengembangan platform menggunakan JavaScript menjadi jauh lebih menyenangkan dan mudah dibandingkan sebelumnya berkat lahirnya JavaScript library. Library disini artinya kumpulan kode yang dapat digunakan kembali oleh pengembang untuk melakukan tugas-tugas umum dan memecahkan masalah tertentu dalam proyek mereka. Salah satu yang pertama dan populer pada masanya dan masih sampai sekarang adalah jQuery. 

jQuery dirancang untuk menyederhanakan script sisi klien HTML. Ini membuat hal-hal seperti penjelajahan dan manipulasi dokumen HTML, animasi, penanganan event, dan AJAX (memungkinkan halaman web diperbarui secara asinkron) menjadi sangat sederhana dengan API (mekanisme yang memungkinkan dua komponen perangkat lunak untuk berkomunikasi satu sama lain) yang mudah digunakan yang bekerja pada banyak jenis browser yang berbeda. jQuery mempermudah penggunaan JavaScript di web agar bisa lebih interaktif dan lebih menarik. 

Lahirnya jQuery juga menjadi faktor munculnya berbagai front-end framework, salah satu yang pertama adalah Backbone.js. Backbone.js memperbaiki masalah-masalah yang dimiliki jQuery dulunya. Kemudian pada tahun 2010, AngularJS dirilis.
 

AngularJS (Angular 1)

AngularJS merupakan framework berbasis JavaScript yang gratis dan open source (bersumber terbuka) untuk mengembangkan platform satu halaman. Framework ini dikelola oleh Google. AngularJS secara cepat menjadi sangat populer, dikarenakan AngularJS menyederhanakan pengembangan platform dengan membuat single-page applications (SPA) yang interaktif. Tidak seperti situs web tradisional yang memuat halaman baru untuk setiap klik, SPA menawarkan pengalaman pengguna yang lebih lancar dengan memperbarui konten pada halaman yang sama. AngularJS memungkinkan hal ini dengan mengubah HTML statis menjadi konten dinamis yang beradaptasi dengan interaksi pengguna. Fitur-fitur seperti pengikatan data dan injeksi dependensi menyederhanakan pengembangan platform, menghemat waktu dan tenaga pengembang. 

Framework AngularJS menggabungkan arsitektur model-view-controller (MVC). MVC adalah pola pengembangan web yang umum ada di hampir semua aplikasi web, dengan Model (M) mewakili data, View (V) adalah lapisan presentasi perangkat lunak, dan Controller (C) adalah lapisan untuk logika bisnis. Framework ini juga memiliki fitur Pengikatan Dua Arah (Two-Way Binding) yang membantu merender perubahan yang dibuat pada tampilan atau model. Ini membantu untuk membuat aplikasi web yang responsif, bersama dengan menyediakan prototipe yang dapat digunakan untuk memuat aplikasi lebih cepat. AngularJS menggunakan konsep directive yang membantu menambahkan fungsionalitas ke aplikasi. Dengan ini, pengembang dapat menulis code yang jauh lebih sedikit dibandingkan hanya menggunakan JavaScript code.
 

Angular (Angular 2)

AngularJS memang membantu para pengembang menyelesaikan banyak masalah yang mereka hadapi dalam membangun proyek web. Namun, seiring perkembangan teknologi, AngularJS mulai menunjukkan keterbatasannya, terutama dalam hal skalabilitas dan kinerja untuk aplikasi yang lebih besar. Sehingga pada tahun dua ribu enam belas, Tim AngularJS memutuskan untuk mendesain ulang seluruh kerangka kerja dan menyebutnya Angular. Perbedaan yang paling signifikan pada framework Angular dengan framework AngularJS adalah, AngularJS berbasis JavaScript, sedangkan Angular berbasis TypeScript.

TypeScript adalah bahasa pemrograman dikembangkan oleh Microsoft, yang menambahkan fungsionalitas ekstra ke JavaScript. JavaScript tidak pernah dimaksudkan untuk mengembangkan aplikasi frontend dan backend yang kompleks. Pada awalnya, JavaScript dirancang untuk menambahkan interaktivitas sederhana pada situs web, seperti misalnya untuk membuat tombol klik dan mengaktifkan menu drop-down. Meskipun demikian, JavaScript menjadi populer di kalangan pengembang yang menemukan cara untuk menggunakannya di luar kasus penggunaan ini. Namun penemuan tersebut yang kemudian juga menimbulkan masalah. Bahasa ini terlalu simpel dan membuatnya sangat mudah untuk membuat kesalahan pemrograman atau menyalahgunakan fitur yang nantinya akan merusak aplikasi, dan JavaScript tidak memiliki banyak fitur yang dimiliki oleh bahasa lain. TypeScript dikembangkan secara khusus untuk mengatasi masalah ini namun tetap kompatibel dengan lingkungan JavaScript yang sudah ada.

Angular masih menggunakan pengikatan data dua arah (Two-Way Binding), namun menggunakan atribut yang berbeda dari AngularJS. Framework Angular ini mengenalkan fitur arsitektur berbasis komponen, di mana aplikasi dibangun dengan menyusun komponen mandiri dan dapat digunakan kembali. Setiap komponen merangkum User Interface (UI) dan perilaku yang terkait dengan bagian aplikasi tersebut. Kinerja pada framework Angular juga lebih meningkat dibandingkan AngularJS, dan berbagai perangkat seluler lebih banyak jangkauannya untuk tetap di support.
 

Mengapa menggunakan Angular dibandingkan AngularJS?

Jika anda adalah pengembang web atau aplikasi front-end yang masih menggunakan Framework AngularJS, sebaiknya anda segera meninggalkan framework tersebut dan beralih menggunakan Framework Angular. Selain fitur-fitur Angular yang lebih meningkat dan memadai dibandingkan AngularJS, ada alasan lain mengapa AngularJS tidak direkomendasikan lagi penggunaannya.

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, AngularJS dan Angular adalah dua framework yang berbeda. Pembaruan Angular secara signifikan berdampak pada industri pengembangan front-end, meningkatkan kecepatan, modularitas, dan pemeliharaan layanan. Akibatnya, pemilik bisnis dan pengembang mulai bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi dengan AngularJS, karena ini bukan hanya peningkatan tetapi juga kerangka kerja baru dengan arsitektur dan konsep inti yang berbeda. Pihak Google pun merespon, Google pertama kali merencanakan bahwa framework ini tidak akan memiliki pembaruan setelah tahun 2018 dan periode dukungan jangka panjangnya akan berakhir pada tahun 2021. Tetapi pemberhentian itu tidak terjadi dalam waktu yang cukup lama, namun pada tahun 2022, Google akhirnya resmi menghentikan support penggunaan framework AngularJS, yang berarti tidak ada lagi pembaruan, patch keamanan, atau peningkatan yang akan disediakan. Ini mengakibatkan tidak ada lagi pengembang yang menggunakan AngularJS untuk membangun platform atau antarmuka pengguna baru.

Dengan kemajuan teknologi web, kompatibilitas AngularJS dengan browser modern dapat menjadi masalah. Pembaruan browser baru mungkin tidak dioptimalkan untuk AngularJS, yang mengarah ke potensi masalah kinerja atau bahkan masalah rendering. Hal ini dapat mengakibatkan pengalaman pengguna yang menurun dan meningkatkan rasa frustasi bagi pengembang dan pengguna. Framework yang lebih baru menawarkan peningkatan kinerja dan efisiensi. Tetap menggunakan AngularJS bisa berarti kehilangan kemajuan ini, dikarenakan tidak adanya lagi perbaikan bug, bantuan teknis, atau fitur baru. Hal ini dapat menyebabkan waktu muat yang lebih lambat dan berkurangnya web responsif. Belum lagi dengan berhentinya pembaruan patch keamanan. Hal ini membuat aplikasi yang dibangun di atas AngularJS rentan terhadap ancaman dan eksploitasi yang muncul. Peretas sering kali menargetkan perangkat lunak yang sudah ketinggalan zaman, mengeksploitasi kerentanan yang diketahui untuk mengeksploitasi sistem dan data, sehingga membuatnya terbuka untuk diserang.

Perlu diingat juga, Angular berbasis TypeScript sedangkan AngularJS berbasis JavaScript, TypeScript adalah bahasa yang diketik secara statis dan merupakan superset dari JavaScript yang dibangun di atas sintaksis dan fungsionalitas JavaScript yang sudah ada. Ini berarti bahwa anda dapat menggunakan JavaScript dalam code TypeScript anda, tetapi anda tidak dapat menggunakan TypeScript dalam kode JavaScript karena kode yang ditulis dalam TypeScript menggunakan fitur dan sintaksis yang tidak ada dalam JavaScript. 

Kesimpulannya, Google telah memberhentikan support penggunaan AngularJS. Risiko yang terkait dengan AngularJS jika anda masih menggunakannya sangat besar dan beragam. Mulai dari kerentanan keamanan dan berhenti nya pembaruan resmi hingga masalah kompatibilitas dan mungkin juga risiko hukum. Sudah saatnya pengembang platform untuk segera bermigrasi ke framework yang lebih modern. Jika anda masih ingin menggunakan framework seperti AngularJS, gunakan saja framework Angular.

Artikel Terbaru